DEV Community

daniyalkautsar
daniyalkautsar

Posted on

Menyelesaikan Masalah Limbah Plastik dengan Pemulung

Sampah plastik masih menjadi masalah yang sukar dipecahkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 menyebutkan limbah plastik Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun. Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di tahun 2018 memperkirakan sekitar 0,26 juta-0,59 juta ton plastik ini mengalir ke laut. Indonesia pun dinobatkan sebagai negara penghasil sampah plastik laut terbesar ke dua di dunia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jambeck pada tahun 2018.

Pemulung adalah orang atau sekelompok masyarakat yang hidup di sekitar tempat pembuangan akhir yang berdampingan dengan sampah untuk mengmpulkan barang bekas yang masih memiliki nilai untuk dijual kembali kepada pembeli barang bekas atau pendaur ulang, antara lain botol bekas, gelas air mineral, besi tua, dan sebagainya.

Beberapa orang memandang pemulung dengan sebelah mata. Pemulung dianggap sebagai kasta terendah dalam hierarki manusia. Bahkan ada segelintir orang yang memberikan stigma negatif kepada pemulung, seperti pemulung dianggap malas, pemulung dianggap maling yang pura-pura mencari sampah, dan beberapa stigma negatif lainnya. Bahkan ketika orang-orang ini bangun di pagi hari dan menemukan jalanan kosong dari botol plastik itu karena para pemulung membantu mereka membersihkan.

Selain itu, komunitas pemulung memiliki posisi tawar sangat lemah terhadap pelapak dan pengepul besar. Terlebih apabila sampah yang dijual berada dalam kondisi yang masih kotor dan belum dipisahkan. Padahal, ketika sampah sudah dibersihkan dan dipisahkan, para pemulung akan memperoleh keuntungan hingga 25 persen lebih besar.

Melalui kerja yang dilakukan para pemulung, setidaknya 33 persen sampah plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi bahan baku industri. Para pemulung itulah yang membuat kita tidak perlu terlalu khawatir akan sampah plastik yang tidak dapat terdaur ulang secara alamihingga 1.000 tahun. Para pemulung itu jugalah yang telah menutupi ketidakdisiplinan kita karena kerap semaunya dalam menggunakan bahan-bahan plastik dan senang membuang sampah sembarangan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, permasalahan pengelolaan sampah, terutama plastik dan pemulung dapat diatasi dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Dengan memanfaatkan teknologi, kita dapat menciptakan aplikasi ataupun alat untuk mengajak masyarakat lebih berkontribusi dalam pengelolaan sampah, sekaligus membantu pemulung dalam mencari limbah plastik yang telah dibersihkan dan dipisahkan. Apabila hal tersebut dapat tercipta dengan baik, maka bukan tidak mungkin lingkungan akan lebih bersih dan tingkat daur ulang sampah meningkat, bahkan pula dapat meningkatkan kesejahteraan pemulung.

Reference:
Liputan6.com. Diakses pada 24 Januari 2022
revolusimental.go.id. Diakses pada 24 Januari 2022
Monicasari, Silvi Irwana. 2016. Kajian Kesejahteraan Masyarakat Pemulung di Tempat Pembuangan akhir (TPA) Kaliori Desa Kaliori Kecamatan Kalibangor Kabupaten Banyumas. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto: Banyumas.

Discussion (0)